Halte
Aku ini halte, depan sekolah tempatku berada.
Setiap harinya selalu ramai oleh manusia, ntah itu siswa, guru, atau orang tua mereka.
Pagi dan sore selalu menjadi waktu yang paling aku suka.
Waktu, dimana manusia-manusia itu menjadikanku tempat untuk istirahat sementara.
Tetapi, dari banyaknya manusia yang menghampiriku.
Hanya ada satu sosok manusia yang menarik perhatianku.
Setiap pagi usai diantar ayahnya, ia selalu menghampiriku sebelum memasuki gerbang sekolahnya.
Atau setiap sore pulang sekolah, ia juga selalu menghampiriku sebelum naik bus kota.
Sabtu dan Minggu adalah hari yang paling tidak membuatku bahagia.
Hari itu aku tidak lagi melihat kepangan rambutnya.
Tidak lagi melihat earphone di telinganya.
Tidak lagi melihat senyum di pagi hari untuk ayahnya.
Bahkan, tidak lagi melihat wajah cemasnya di sore hari saat menunggu bus kota.
Ah tapi tak apa, toh besok Senin aku akan melihatnya lagi kan?
Tapi kenapa, kenapa sudah seminggu ini aku tak lagi melihatnya?
Pagi dan sore tidak lagi kulihat senyum ataupun cemas di wajahnya.
Seminggu berlalu, tepat di hari Selasa.
Kulihat lagi kepangan di rambutnya.
Kulihat lagi senyum di wajahnya.
Tapi bukan, bukan senyum seperti biasanya.
Senyum kali ini lebih merekah, lebih terlihat bahagia.
Bahkan bukan hanya pagi, sore pun masih terlihat senyumnya.
Sosok manusia yang masih aku kagumi.
Namun, semakin sulit aku dekati.
Ia tidak lagi menghampiriku, pagi ataupun sore hari.
Saat ini Si Motor Gede tersangka sebagai pencuri.
Pencuri hati gadis yang bahkan belum sempat kumiliki.
Ini memang bukan salahnya.
Aku yang hanya berdiam, sudah jelas akan kalah oleh Si Motor Gede yang terus bergerak menghampirinya.


Komentar
Posting Komentar