Kembang Api (Cerita Pendek)


"Pengen deh Sak, nyobain tahun baruan di Dago Pakar."

"Tapi jauh Ca, emang ... "

"Diizinin Sak ... udah pernah bilang kok sama mamah. Kayanya seru liat kembang api di sana, gila sih ... ngebayanginnya aja udah seru.", potong Ica.

"Iya deh, lagian tahun barunya juga masih lama kali. Sekarang itu baru awal bulan Oktober Ica!", ucap Sakti sambil mengacak-ngacak rambut Ica yang terurai sebahu. 


Sakti dan Ica. Saat ini mereka masih duduk di bangku SMA, tiga bulan yang lalu mereka sama-sama baru naik ke kelas sebelas. Bedanya, Sakti di jurusan MIPA dan Ica di jurusan Bahasa. Mereka sudah berteman selama kurang lebih tujuh tahun, sejak Ica pindah ke Bandung. Saat itu mereka masih kelas empat SD. Orang tuanya Ica membeli rumah tepat di samping rumah Sakti.


Tujuh tahun yang lalu. Setelah melaksanakan upacara bendera, masuk wali kelas Sakti bersama anak perempuan memakai seragam merah putih dengan kepangan di rambutnya.

"Selamat pagi ... Ibu mau ngasih tahu ke kalian ada anak baru. Pindahan dari Lampung."

"Wihh ... Lampungmah jauh atuh, Bu.", celetuk salah seorang siswa di kelas.

"Coba neng, perkenalkan diri dulu."

Sejak saat itu Sakti tahu nama tetangga yang baru pindah ke samping rumahnya kemarin sore.


Sakti dan Ica mulai dekat saat pembagian hasil ulangan harian pelajaran Matematika. Saat itu, Bu Halida, guru Matematika mereka membagikan hasil ulangan yang sudah dikerjakan sehari sebelumya. Namun, bukan nama Sakti yang disebut terakhir. Iya, nama Sakti selalu disebut terakhir karena dia selalu mendapat nilai paling tinggi. Tidak heran, sebab sejak kelas satu dia selalu menempati peringkat satu di kelasnya. Tidak pernah tergantikan.


"Wih, selamat ya, Ca. Keren banget ulangan kemarin bisa dapet nilai sempurna."

"Kamu juga keren kali. Orang kamu cuma salah satu kan?"


Sejak saat itu, mereka semakin dekat. Setiap pulang sekolah Sakti selalu main ke rumah Ica, atau sebaliknya. Untuk sekadar main game, cerita tentang temen-temen kelas, atau bahkan nyobain makanan mamahnya Ica. Tetapi, lebih seringnya belajar bareng. Apalagi semenjak pembagian rapor semester kemarin. Juara bertahan di kelas sudah beralih posisi ke peringat dua, digantikan sahabatnya sendiri.


Mereka selalu membuat target dan bersaing secara sehat agar mendapat peringkat satu. Walau mereka inginnya tidak ada peringkat satu atau dua. Karena bagi mereka, keduanya memiliki kelebihan masing-masing.


Kedekatan mereka terus berlanjut hingga kelulusan, bahkan mereka memutuskan untuk mendaftar SMP ke sekolah yang sama. Lebih tepatnya Ica, dia tidak mau berbeda sekolah dengan Sakti. Padahal rumah Ica sudah pindah, tidak lagi berdekataan dengan rumah Sakti.

"Tapi, kalau kamu daftar ke sekolah itu, siapa yang akan nganter kamu, Nak?"

"Setiap berangkat kerja, Ica ikut Papah sampai halte. Terus Ica lanjut naik bus deh."

"Emang berani? Kalau ada apa-apa gimana, yakan Mah?"

"Bener kata Papah ... Ica kan baru masuk SMP."

"Gabakal Mah, Pah ... Nanti Ica bakal berangkat bareng sama Sakti dari halte."

"Oh, kenapa gak bilang dari tadi!", ucap Mamah dan Papah bersamaan.


Apa pun yang Ica mau kalau didampingi Sakti, ayah sama ibunya pasti mudah memberi izin. Selain menjadi teman anak semata wayangnya itu, orang tua Ica juga sudah menganggap Sakti seperti anaknya sendiri. Bagaimana tidak, orang hampir setiap hari waktu luang anaknya dihabiskan bersama sahabatnya itu.


Hampir setiap acara besar orang tuanya Ica selalu merayakan bersama Sakti dan keluarganya. Membuat ketupat ketika Idul Fitri. Membakar sate ketika Idul Adha. Menyusun acara dan perlombaan saat Hari Kemerdekan. Bakar-bakar saat tahun baru. Menyalakan kembang api. Ini yang paling Ica suka, walaupun dia tidak berani menyalakannya. Sudah jelas, Sakti pasti menjadi orang yang Ica ajak untuk menemaninya.

"Pah, nyalain kembang apinya dong ... ", pinta Ica agar ayahnya menyalakan kembang api di malam pergantian tahun.

"Papah lagi bakar jagung Ca, minta tolong mamah aja."

"Ngga. Mamah kan lagi nyiapin bumbu buat bakar ikan, ajak Sakti aja.", teriak ibunya dari arah dapur.


Hari pertama sekolah Ica diantar oleh Ayahnya ke halte. Sesuai janji, Sakti sudah menunggu di halte. Padahal masih terlalu pagi, tetapi memang biasa bagi anak yang baru sekolah di tempat baru. Apalagi hari ini pembagian kelas, walaupun Ica sudah tahu bakal sekelas lagi dengan Sakti. Sehari sebelum masuk sekolah, Ica meminta ayahnya untuk mengantar ke sekolah barunya itu. Melihat daftar pembagian kelas di mading sekolah.


"Ca, udah ada tuh busnya."

"Sak, kita duduknya di bangku dekat sopir, ya."

"Siap Nona Manis ... ", ucap Sakti bercanda.


Sakti sudah tahu rencana sahabatnya itu, bentar lagi Ica akan berubah menjadi "wartawan" dadakan. Ica memang suka bertanya-tanya tentang segala sesuatu, apalagi sama orang baru.


"Tuh kan, udah ku bilang jangan bikin ginian.", ucap Sakti kesal melihat kertas daftar pertanyaan yang sudah buat.

"Gapapa Sak, ini penting tau. Gimana kalau nanti ada pertanyaan penting yang lupa? Bakal gagal kita dapetin informasinya."

"Iya deh, iya ... tapi aku cek dulu!"


Ini yang Sakti khawatirkan. Takutnya terselip pertanyaan aneh di kertas yang Ica bawa. Seperti saat Ica mewawancarai tukang bakso di taman kala itu. Sakti sampai malu, karena Ica menanyakan kepada penjualnya soal daging yang digunakan untuk membuat bakso. Mang, ini pake baksonya pake daging ayam atau sapi? Padahal sudah jelas di gerobaknya ada bacaan "BAKSO I CAN".

"Ca, ini kan udah jelas bakso ikan!"

"Ya.. siapa tau kan si Amangnya boong ... "


Pernah juga saat membeli martabak, malam itu mereka berencana membeli martabak telur di penjual dekat rumah baru Ica.

"Sak, beli martabak yuk. Katanya enak martabak di sana."

"Lesgowww Nona manis."

Saat itu sedang ramai-ramainya orang yang beli, tiba-tiba Ica meluncurkan pertanyaan "aneh"nya.

"Mang, ini martabaknya pake telur ayam atau bebek? atau telur puyuh?

Sontak semua orang yang ada di sana melihat ke arah Ica dan Sakti. Si penjualpun berhenti sejenak, melihat bingung ke arah Ica.


Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan Ica ke penjual atau orang baru. Pernah juga beberapa kali Ica tidak sengaja menanyakan hal privasi. Seperti resep rahasia dari beberapa penjual makanan, yang sontak diikuti oleh tatapan sinis dari penjualnya.


Setiap kekonyolan yang Ica lakukan pasti disaksikan langsung oleh Sakti, karena hanya Sakti yang paling kuat dengan tingkah Ica yang aneh. Begitupun sebaliknya, hal-hal yang Sakti tidak tampilkan di depan teman-temannya selalu hanya Ica yang mengetahuinya.


Hari pertama di sekolah barunya itu, sudah banyak calon teman barunya Ica dan Sakti yang sedang berkumpul di depan mading. Berebutan melihat lembaran kertas yang berisi daftar nama-nama di kelas barunya. Matanya melirik tanya kertas yang tertempel, dilihatnya satu persatu baris nama, dicarinya nama mereka masing-masing.

"Ca, cepet dong jalannya. Itu udah penuh, nanti susah nyari pembagian kelasnya!"

"Tenang bapak Sakti ... Nona Ica akan tunjukan rute menuju kelas bapak.", ucap Ica sambil cengengesan. Gelagatnya seperti tour guide wisata profesional.

"Tenang apa sih , Ca. Serius, nanti kita telat masuk kelasnya!", jawab Sakti kesal.

"Jangan marah dong Pak ... mari ikuti Nona Ica!", Ica masih cengengesan, membuat sakti makin kesal.


Tetapi, mau tidak mau Sakti harus ikut. Ica mulai melangkah menuju ruang kelasnya sambil menarik tangan Sakti. Sakti terpaksa mengikuti langkah kaki sahabatnya itu dan mulutnya tidak berhenti ngedumel.

"Selamat datang di ruang kelas barunya bapak Sakti ... "

Sakti tidak mengucapkan apa-apa.

"Cepet masuk!", ajak Ica sambil menunjukkan daftar siswa di ruang kelas tersebut. Jemarinya menari di atas kertas, menunjuk kolom nama yang berisi nama Sakti.

"Sial! Bisa gagal jadi juara kelas.", ucap Sakti sambil menepuk jidatnya.


Tiga tahun Sakti ditakdirkan satu kelas lagi dengan sahabatnya itu. Sudah bisa ditebak, peringkat satu didapatkan oleh Ica. Walaupun setiap pulang sekolah Ica dan Sakti selalu belajar bareng. Sesekali di rumah Ica, di rumah Sakti, di perpus sekolah, atau bahkan di perpus kota. Tetapi tetap, segigih apa pun belajar Sakti, ia selalu kalah oleh sahabatnya itu.


Sama seperti kelulusan tiga tahun lalu, Sakti dan Ica memutuskan untuk mendaftar ke sekolah yang sama. Mereka mendaftar ke salah satu SMA favorit yang ada di kota Kembang, kota yang mempertemukan mereka berdua.


Ica mempunyai hobi menulis, membaca, dan tertarik akan sastra akhirnya mendaftar dan diterima di jurusan Bahasa. Sedangkan Sakti yang awalnya akan mendaftar ke jurusan IPS, terpaksa harus mengalah dengan pilihan orang tuanya. Mendaftar ke jurusan MIPA. Karena orang tuanya berpikir bahwa jurusan MIPA adalah jurusan yang terbaik, jurusan yang akan mempermudah mendaftar ke perguruan tinggi nantinya, dan jurusan yang akan mempermudah mendapatkan pekerjaan. Padahal itu hanya stereotip yang masih berkembang di masyarakat.


"Sak, kamu kemana dulu sih. Lama tau gak?!", ucap Ica sambil menyembunyikan raut wajah kesalnya.

"Tadi ada ulangan dulu, Nona Manis ... makanya lama."

"Tau ah, makanannya udah aku pesenin. Bakso gapake bihun, terus minumnya es teh manis gulanya tiga sendok."

"Lah curang, aku kan belum datang. Kok udah dipesenin aja."


Hari selasa dan kamis adalah jadwalnya Ica dan Sakti makan bareng di kantin ketika jam istirahat. Selain dua hari itu, mereka habiskan untuk makan bareng teman kelasnya. Ica selalu membawa kertas berisi daftar makanan di kantin yang akan menjadi menu makan mereka saat itu. Setiap sebelum memesan makanan, mereka akan mengacak daftar makanan yang ada di kertas yang Ica bawa. Hasil acak tersebut akan menentukan menu makanan yang akan dibeli.


Mereka sudah saling tahu hal spesifik dari makanan yang akan dibeli. Seperti bakso. Sakti memilih bakso tanpa bihun, sedangkan Ica akan memilih bakso campur tanpa kecap. Ica paling anti sama kecap, dalam setiap makanan. Atau saat memesan ayam geprek. Sakti memilih pedas level 3, sedangkan Ica yang lebih suka pedas akan memilih pedas level 5. Untuk minumnya es teh manis selalu menjadi andalan untuk menemani apapun jenis makananya.


Sudah satu semester mereka habiskan di sekolah barunya itu. Waktunya libur akhir tahun. Libur yang selalu ditunggu-tunggu Ica, libur akhir tahun sama dengan tahun baru yang berarti akan ada malam untuk menikmati kembang api.


"Sak, nyalain dong kembang apinya ... ", bujuk Ica.

"Ngga ah, masa udah SMA masih belum berani pegang kembang api sendiri."

"Yaudah kalau gitu, aku mau ke kamar aja. Kamu tahun baruan aja sama mamah, papah!"

"Ciahhh ngambek, yaudah iya iya. Asal kamu juga pegang, nanti aku temenin."


Kelas sepuluh SMA. Untuk perama kalinya Ica berani memegang kembang api. Walaupun letusan kembang api pertama dan kedua harus dipegang barengan dulu sama Sakti. Tidak disangka, Ica yang awalnya takut memegang kembang api, malah sekarang ia yang meminta terus untuk memegang kembang apinya.


Ternyata tanpa Sakti sadari, itu bukan hanya waktu pertama kalinya Ica berani memegang kembang api. Melainkan waktu untuk terakhir kalinya ia merayakan tahun baru bersama keluarga Ica.


Impian Ica tiga bulan yang lalu untuk merayakan tahun baru di Dago Pakar, tidak bisa mereka wujudkan. Orang tua Ica terpaksa harus pindah ke kampung halamannya, Lampung. Padahal dua hari sebelum malam tahun baru Sakti masih menanyakan soal rencana Ica tersebut.

"Ca, lusa jadi kan ke Dago Pakar?"

Mata Ica fokus melihat udara kosong.

"Ca. Ica. Ica. Nona manis ... ?", Sakti melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ica.

"Eh, i-iya Sak. Iya jadi."

"Ica, kamu gagapa kan?"


Sore hari tanggal 31 Desember Sakti mengendarai motor CB tuanya untuk menjemput Ica. Namun, yang Sakti dapatkan hanyalah suasana rumah tanpa penghuni. Masih terdapat barang keluarga Ica di halaman rumahnya, mungkin barang yang sudah tidak terpakai. Sakti melangkahkan kakinya mendekat ke pintu rumah tersebut. Sesekali melihat sekeliling rumah itu. Sesekali mengetuk pintunya. Namun, tetap tidak ada jawaban. Tetap sunyi.


Setelah berkeliling melihat rumah yang kosong, Sakti dihampiri tetangga Ica. Memberikan selembar kertas yang sudah dilipat.


Sak ...

Minggu lalu Papah dapet surat pindah tugas. Mau tidak mau aku  harus ikut.

Sengaja tidak memberi tahu lebih awal. Karena aku tidak mau ada perayaan, perayaan dari sebuah perpisahan. Semoga tanpa adanya perayaan, akan mengurangi kesedihan dalam diri kamu.

Lov  Bahagia terus ya, Sak.

                                                                                                                      Ica  Nona manisnya Sakti.


Sakti terdiam. Sakti terus memperhatikan tulisan pada baris terakhir, yang berisi alamat rumah Ica di kampung halamannya. Matanya terus memperhatikakan indahnya huruf demi huruf surat yang di tulis Ica. Tetapi tidak dengan isinya. Isi dari surat tersebut tidak seindah tulisannya.


Andai saja Ica tahu. Bahwa direncanakan ataupun tidak, dikasih tahu sejak lama ataupun tiba-tiba, tidak akan ada yang siap akan sebuah perpisahan.














 




Komentar

Postingan Populer